Pages - Menu

Sunday, October 8, 2017

Are you happy?


pic from here
Postingan ini masih ada kaitannya dengan posting sebelumnya. Saya sadar betul, posting saya sebelum ini tuh benar-benar sok. Sok ide, pakai judul managing emotions segala. Bah. Padahal, orang-orang terdekat saya barangkali tahu, saya masih sangat kacau soal pekerjaan satu itu.

Saya mengerti, sedih itu hal biasa. Orang bersedih karena alasan-alasan tertentu. Kalimat-kalimat penghibur untuk orang yang sedang sedih itu biasanya berbunyi, “nggak apa-apa, it’s okay not to be okay. Nggak apa-apa sesekali sedih. Lebih baik diungkapkan, jangan dipendam seorang diri. Nangis aja dulu, supaya lega.” Begitu biasanya, kan?

Saya melakukannya sesuai saran. Bagi saya, situasi paling emosional yang mungkin menjangkiti saya adalah perasaan sedih. Bukan marah, atau emosi lain. Maka, ketika saya—apa ya istilahnya, mungkin ini lebay, tapi biarlah—sudah tidak kuat menanggung kesedihan, saya akan mencari bantuan ke orang-orang terdekat. Saya akan menghubungi mereka dan mengatakan, “saya sedang sedih nih, butuh kuping, pundak, tisu, apapun milik siapapun yang mau menampung.” For those who always have my back, thank you. Kamu nggak punya ide betapa besar arti kehadiranmu buat saya.

Ketika minta bantuan orang-orang kepercayaan, biasanya posisi saya sudah capek menangis. Saya menghubungi mereka lewat aplikasi chatting saja, sehingga mereka tak perlu melihat muka saya yang kacau. Tapi, nggak semua situasi emosional datang saat saya sedang sendiri. Ada kalanya situasi itu menyergap saat saya sedang berada di tengah-tengah forum. Bukan sekali-dua kali saya gagal menahan diri untuk tidak kelewat emosional. Sering, saya sering gagal.

Waktu lagi sama teman-teman, mengobrol soal macam-macam. Jika ada topik yang related dengan pengalaman hidup saya, yang membuat ingatan tentang pengalaman sensitif terpanggil sedikit saja, saya bisa mendadak mewek. Waktu pelajaran sosiologi bersama Pak Pur di SMA, saya pernah dua kali gagal menahan sesenggukan di kelas. Padahal, perkaranya sederhana. Pak Pur melempar pertanyaan tentang seberapa besar kemungkinan siswa perempuan memilih jadi ibu rumah tangga setelah menikah, ketimbang jadi wanita karier. Pertanyaan yang membawa pikiran Sekar umur 16 kepada ibunya, bagaimana ia mendapat afeksi seorang ibu dalam waktu yang terbatas. Jadilah ia mbrambangi di kelas, mengundang raut tak tega di wajah teman-teman.

Beberapa waktu lalu, situasi emosional datang di tengah kelas workshop relawan Kolong Tangga dengan Pak Rudi sebagai tutornya (tutor? Kami nggak menggunakan istilah itu, sebenarnya. Beliau hanya selalu ada di sana untuk memandu diskusi dan training workshop, jadi... yah, disebut tutor juga barangkali nggak apa-apa). Saat itu Pak Rudi meminta relawan menyobek pola bebas dari halaman majalah bekas, lalu menempelkannya pada selembar kertas sesuai kreativitas masing-masing. Boleh menyobek bentuk segitiga besar, segitika kurus, lingkaran kecil, atau abstrak sekali pun, tetapi saat menyusunnya di kertas harus bisa membentuk pola gambar. Itu latihan motorik halus, membayangkan bentuk, dan memadukan warna. Setelah itu, Pak Rudi “membaca” satu per satu gambaran yang kami bentuk, seakan-akan pola gambar kami di kertas itu memberitahu Pak Rudi watak dan karakter kami.

Pak Rudi bilang, pola kucing bermata nakal yang saya bentuk mencerminkan watak saya yang menyimpan kekuatan meski terbungkus tampilan yang “halus”. Kekuatan itu, jika tidak saya kelola dengan bijaksana, dapat berubah menjadi watak keras yang membuat orang-orang di sekitar saya “terdorong” menjauh. Pak Rudi bertanya apakah saya pernah “mendorong” orang-orang menjauh, yang saya jawab, saya tidak terlalu yakin. Saya kurang ingat bagaimana ia menganalisis karakter saya lebih lanjut, tetapi di akhir Pak Rudi bertanya, “are you happy in your life?” 

Saya mencoba bilang “ya”, tapi lelehan yang keluar dari sudut mata saya tampaknya tidak mendukung jawaban itu. Teman-teman peserta kelas workshop sigap menawarkan tisu. Saya masih memandang Pak Rudi, tapi kehilangan ide untuk memberikan argumen. Saat itu, yang ada di pikiran saya: seseorang bertanya apakah saya bahagia dalam hidup saya. Jadi, apakah saya bahagia? Apakah selama hidup saya merasakan bahagia? Saya tidak tahu. Saya mengalami banyak kehilangan, orang-orang yang saya sayangi pergi, ada yang untuk sementara waktu, ada yang untuk selamanya. Apakah saya bisa merasakan bahagia? 

Begitulah. Terlepas dari pemikiran kemudian tentang ‘bahagia’ yang punya bermacam-macam bentuk, setiap orang bebas membuat definisi dan berhak menciptakan bahagia versi dirinya sendiri, faktanya saya sering lepas kendali atas emosi. Emosi sedih, terutama. Beberapa teman menyebut watak saya perasa, mudah tersentuh. Tetapi, saya pikir itu berbeda dengan lepas kendali. Orang boleh tersentuh hatinya saat menonton drama dengan sad ending. Tapi nggak bisa, kan, orang serta-merta menangis disergap situasi emosional saat sedang berada di tengah-tengah forum? Dijamin, orang-orang dalam forum juga nggak ngerti bagian mana yang termasuk situasi emosional itu.

Bukannya nggak boleh...

Tapi, jangan sering-sering deh. Jadilah kuat saja, dengan belajar mengelola dan mengendalikan emosi. Suatu saat nanti, datang pertanyaan are you happy, kamu nggak bingung lagi.
—Sekar kepada Sekar.


No comments:

Post a Comment