Pages - Menu

Monday, October 2, 2017

Managing emotions

gambar pinjam dari sini

Chat yang masuk dari seorang teman, pagi-pagi saat saya baru bangun tidur di hari Minggu, membuat saya berpikir ulang tentang hidup. Bahasannya sok-sokan ya? Mikir soal hidup. Hehe, saya tidak menemukan diksi yang lebih tepat. Teman saya mengawali chat dengan permintaan maaf karena akan bertanya sesuatu yang personal. Ia membebaskan sejauh mana saya akan memberi tanggapan. Tanyanya, apakah saya pernah menangis tanpa alasan--tiba-tiba merasa begitu sedih hingga kemudian menangis?

Saya langsung mikir, apakah gerangan yang terjadi pada teman saya ini? Dia tergolong teman yang dekat dengan banyak orang karena sifatnya yang supel. Tetapi, saya dipilihnya untuk menyampaikan kegelisahan yang dirasakannya. Di mata saya, si teman ini jarang terlihat sedih, tapi bukan berarti nggak pernah sedih sih ya. Maka pagi itu mengobrol lah kami lewat aplikasi chatting.

Kami bertukar cerita tentang apa yang dialami masing-masing terkait perasaan sedih. Teman saya bilang, dia belum siap menceritakan masalahnya secara rinci. Dia hanya ingin tahu jika ada teman yang mengalami hal yang sama (dicecar kesedihan yang memicu tangis), dan bertanya bagaimana meng-handle-nya. Jadi, saya membagi apa yang saya punya--bahwa saya memang kerap merasa sedih hingga menangis (saya berkali-kali bilang di blog, kan, kalau saya sangat cengeng). Tetapi, saya rasa, saya selalu punya alasan untuk itu.

Di akhir obrolan, teman saya berkata, membicarakan kegelisahannya dengan saya membuat perasaannya sedikit lebih baik. Syukurlah. Teman saya nggak tahu, pagi itu kegelisahannya berpindah pada saya, menghantui saya seharian penuh. Wkwkwkwk. Nggak apa-apa. Sungguh, saya sudah biasa dihantui kesedihan dan kegelisahan. #yak #cry

Oleh karena kesedihan dan kegelisahan itu seakan sudah jadi bagian dari hidup saya, maka saya belajar mengatasinya sendiri. Tidak menutup kemungkinan saya minta bantuan ke orang lain juga sih, karena saya percaya, solusi terbaik justru bisa datang dari orang lain kalau kita mau terbuka. Itu juga yang saya sampaikan ke teman tadi. Si teman ini sadar kok, dia harus keluar dari rasa sedih yang mengungkungnya. Hanya saja, kadang ketika dia mencoba cerita ke orang lain, banyak yang salah paham dan mengira dia nggak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Final statement darinya adalah bahwa sebenarnya, dia nggak butuh solusi, nggak berharap apapun, karena dalam dirinya ada keyakinan dia bisa melewati masalahnya. Satu hal yang dia butuhkan hanya afeksi.

Aduh bo, kalimat pamungkas kawan ini somehow memperjelas apa yang saya sendiri rasakan, in some related conditions. It feels like I am talking to the mirror, hahaha. Mungkin kesedihan dan kegelisahan yang begitu besar terlanjur tertanam di alam bawah sadar saya (atau, setiap orang juga punya? Saya kurang tahu ilmu psikologinya, nih). Didasari pengalaman masa lalu seperti yang saya miliki, saya nggak akan bisa betul-betul lepas dari rasa sedih dan gelisah. Kuncinya hanya bagaimana me-manage emosi itu agar nggak berlarut-larut di dalamnya. Saya tahu, saya sering merasa sedih, tapi saya harus punya kendali untuk mengatur kapan dia boleh muncul, kapan dia harus masuk ke dalam kotak emosi yang paling tersembunyi. #sip #ngumpet

Saya masih terus berusaha mempelajari dan memahami diri saya sendiri.
Satu harapan saya, to live my life more happily.

No comments:

Post a Comment