Pages - Menu

Thursday, November 9, 2017

Halo, Pak

Halo... Pak?

Jogja sedang dingin-dinginnya. Angin malam masuk lewat celah atap rumah kita yang tak pakai eternit, langsung langit-langit genteng yang tinggi saja. Bapak belum tahu, kan, jendela dekat meja makan pecah kacanya. Dengan bantuan tetangga, kaca diganti anyaman kawat agar tikus tak masuk seenaknya. Angin lah yang kemudian menyelinap berlomba-lomba, menembus tirai dan sampai pada badanku yang terduduk di ruang tengah, di depan televisi yang berminggu-minggu tidak nyala.

Perutku jadi mulas, Pak, ingin kentut melulu.

Dulu selalu bapak yang mudah terkentut-kentut, suaranya nyaring tapi tak bau.

Halo... Pak?

Sekaten baru mulai dan langsung ramai, suara kereta-keretaan dan tong setan itu terdengar jelas sampai ke rumah. Kalau pulang lewat alun-alun pasti kena macet, apalagi malam hari pas tidak hujan dan orang-orang tumpah cari hiburan. Parkir motornya makan separuh ruas jalan. Ingin terbang saja rasanya, biar bebas dari kemacetan.

Tak ada Sekaten pun jalanan Jogja sudah ramai, Pak, apalagi arah menuju kampus. Berangkat kuliah sering terburu-buru. Agak ngebut biar mempersingkat waktu, tetap patuh rambu-rambu. Barangkali geleng-geleng bapak lihat cara berkendaraku, anakmu badannya kecil, motornya besar, sok-sokan mau nguasai jalanan.

Jalan ceritaku lompat sana-sini ya, Pak?

Tapi bapak dengar, kan?

Dari jauh sana, bisa dengar?

Sungguh banyak cerita, kali ini dicukupkan dulu. Betapa Sekar rindu, kelewat rindu sampai meracau rangkai monolog semu.


Yogyakarta, 9 November 2017  |  00.49 WIB


2 comments:

  1. Smoga beliau baik2 saja disana 🙂

    Sedih mbacanya euy

    ReplyDelete