Pages - Menu

Sunday, November 26, 2017

Orang-orang dalam mimpi

Dulu, selepas kepergian ibu, Echa-kecil yang baru berkenalan dengan dunia tulis-menulis kerap menuangkan kerinduannya pada ibu lewat puisi. Dalam setiap puisinya, hampir selalu terselip permohonan agar ibu datang menemuinya lewat mimpi. Itu karena Echa-kecil belum siap berpisah dengan ibu, belum ingin ibu hilang dari kesehariannya.

Maka apabila suatu malam Echa-kecil memimpikan ibunya, ia akan berusaha mengingat detail mimpi itu, kalau perlu mencatatnya dalam buku harian agar tidak lupa. Orang-orang yang dijumpai dalam mimpi menjadi penting, terlebih jika mereka sosok yang kaukenal dan sudah lebih dulu meninggalkan dunia.

Akhir-akhir ini, aku terus-menerus memimpikan bapak. Setiap kali jatuh tertidur dalam keadaan letih, selalu bapak yang hadir dalam mimpiku. Benar, itu bapak. Aku ingat dengan jelas saat terbangun. Tapi aku tidak selalu berhasil mengingat detail maupun jalan ceritanya. Aku hanya yakin bahwa bapak baru saja mampir, ditandai perasaan spesifik seperti habis bertemu orang yang kausayangi, kauhormati. Kehadirannya meninggalkan perasaan tenang, diayomi. Persis seperti ketika bapak masih ada.

Terkadang aku juga masih memimpikan ibu. Ibu ada di sana, sepanjang mimpi dalam tidurku, atau muncul sekelebat saja. Tidak mesti bisa kuingat detailnya. Hanya saat terbangun, aku sungguh yakin baru saja memimpikan ibu.

Kata tante, memang benar orang-orang yang sudah meninggal dapat hadir di mimpi kita. Kalau mereka hanya menampakkan diri dan tidak bicara, artinya benar itu roh orang meninggal yang berkunjung ke mimpi orang hidup. Barangkali mereka datang karena rindu pada kita, atau untuk menjawab kerinduan kita. Tetapi jika kita mimpi bercakap-cakap dengan mereka, tandanya sosok itu hanya jin yang menyamar menyerupai orang yang kita kenal. Maka lebih baik tak perlu dipikirkan apa maknanya.

Beberapa kali sosok yang hadir dalam mimpiku persis ibu, ia sungguh ada di sana, bersikap tenang saja, duduk maupun berdiri, di sudut maupun di tengah-tengah kami. Jika aku atau tokoh lain dalam mimpiku menyapa, sosok ibu hanya membalas dengan senyum. Benarkah itu roh ibu, ibuku, datang ke mimpiku? Sering pula aku memimpikan bapak, ada adik-adik juga, kami berbincang sebagaimana sebuah keluarga sedang membicarakan suatu urusan. Kalimat-kalimat yang keluar dari lisan bapak bernada nasihat untuk anaknya. Benarkah itu penyamaran jin, menyerupai bapakku, datang ke mimpiku?

Berbeda dengan Echa-kecil, kini setiap kali memimpikan bapak atau ibu, aku--yang kini sudah besar untuk memahami--tidak lantas menganggap itu benar-benar roh mereka yang menjengukku.

Bisa jadi benar, dari perasaan spesifik yang mereka tinggalkan, Tuhan sedang menyuruh mereka berkunjung. Kemungkinan lainnya, mimpi-mimpi itu wujud dari akumulasi rasa rindu, pikiran alam bawah sadar sehari-hari tentang bapak dan ibu, dan betapa aku tak lagi punya akses untuk bertemu.

Echa-besar masih menulis untuk mengenang orang-orang yang lebih dulu pergi, Pak, Bu. Hanya saja ia tak lagi minta dikunjungi lewat bunga tidurnya setiap malam, karena ia telah paham: perbedaan dimensi mengubah arti sebuah perjumpaan. Bertemu lewat mimpi justru terasa menyesakkan, kala ia bangun dan mendapati di dunia ini ia masih sendirian.

sendiri di perjalanan--sama sekali bukan sesuatu yang aku minta

Yogyakarta, 26 November 2017.

No comments:

Post a Comment