Pages - Menu

Wednesday, November 22, 2017

Tentang bertahan hidup

Saya selalu merasa kehidupan sosialmu berjalan sangat baik, Chak, kok bisa sih? Kamu terlihat punya banyak teman; hari ini dengan si Anu, hari berikutnya bisa bertemu yang lain. Hidupmu sepertinya ramai sekali dengan peristiwa ini dan itu. Sementara saya, saya terjebak di lingkaran yang begini-begini saja. Lurus sekali, tidak belok-belok, dan justru jadi tidak asyik. Saya tahu saya sebenarnya bisa mencoba keluar, tapi saya terlalu malas melakukannya. Kebanyakan orang memang begitu, kan? Tahu problem mereka, bahkan tahu solusinya, tapi tak kunjung bergerak menyelesaikannya. 

Itu kata seorang kawan kepada saya, kemarin, saat kami mencuri waktu di tengah perkuliahan untuk makan sore bersama.

Saya cengengesan. 

Berarti saya berhasil membuat orang mengira begitu, ya, jawab saya. Saya berhasil membentuk citra diri sebagai orang yang hidupnya menyenangkan.

Ya, oleh karenanya saya perlu belajar dari kamu, ujar si kawan.

Cengengesan saya makin lebar.

Tentu saja kami tidak mengobrol menggunakan saya-kamu; tidak seformal itu. Kami pakai bahasa percakapan santai, terkadang diselingi bahasa jawa. Saya dan kawan ini dulu sekelas di tahun pertama SMA. Tahun berikutnya, saat penjurusan, dia masuk IPA sedangkan saya memilih IPS. Tapi kami masih sering hangout, saling mengunjungi rumah satu sama lain, dan masih menjalin pertemanan hingga saat ini, tahun ketiga di bangku kuliah. Saya di Fakultas Ilmu Budaya, dia di Teknik.

Kemarin, masih sambil cengengesan, saya berkata padanya, kamu kok kayak nggak tahu saya, sih? Nggak, hidup saya nggak semenyenangkan itu. Saya sering berada di situasi buruk. Merasa sendirian, nggak punya teman. 

Kawan saya bersikeras, tetap saja. Hidupmu oke. 

Yah, dia nggak secara gamblang mengatakan “hidupmu oke”, begitu. Tetapi yang saya tangkap, dia sungguh-sungguh menganggap hidup saya dipenuhi hal-hal oke. Itu yang membuat saya heran. Dia kan sudah lama mengenal saya. Dia tahu lika-liku hidup saya, betapa saya punya sisi yang amat rapuh, dapat runtuh menjadi keping-keping hanya dalam sekali sentuh. Hidup saya sama sekali nggak seperti sangkaannya. Dia seharusnya paham.

Eh, kok maksa. Wkwk.

Sekarang, saya pikir-pikir lagi... tidak penting bagi saya memusingkan anggapan kawan ini. Bukankah bagus jika orang melihat yang oke-oke saja dari hidup saya? Barangkali, ini dampak dari apa yang saya citrakan sehari-hari—meski saya tidak bermaksud membangunnya dengan sengaja. Atau, mungkin, ini hasil sugesti yang selama ini saya bisikkan pada diri sendiri, berulang kali: 

Hidupmu oke, Chak, kamu dikelilingi orang-orang hebat, berkawan dengan mereka menularkan semangat. Niatmu untuk bertahan hidup pun sudah oke, meskipun kadang jalanmu terseok-seok, pandanganmu buram saat melihat masa depan, setidaknya kamu punya tujuan. Itu yang paling penting. Bertahan hiduplah untuk menjaga nyala cita-cita dalam dirimu. Hidup dengan baik, untuk dirimu sendiri, untuk orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu.

Hidup, bernapaslah, jaga dirimu baik-baik.
Yogyakarta, 22 November 2017.

1 comment: