Pages - Menu

Tuesday, December 5, 2017

Kepada pembaca

Suatu hari, saya meluangkan waktu untuk membaca ulang setiap postingan di laman ini, urut sesuai menu Archive yang ada di sidebar. Saya menelusuri postingan demi postingan sembari mengingat-ingat segala hal yang menjadi dasar tulisan saya, apa yang saya rasakan atau pikirkan pada saat menulis postingan itu.

Postingan tertentu dapat dengan mudah memanggil kembali memori tentang suatu peristiwa, namun beberapa yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk saya sendiri 'ngeh' peristiwa apa yang mendasarinya.

Itu karena blog ini berisi postingan yang begitu acak. Ada cerita saya tentang keseharian. Ada tulisan yang lahir sebagai hasil kontemplasi. Rangkaian kata yang saya labeli 'puisi', juga prosa-prosa fiksi—baik itu fiksi betulan atau pun yang sesungguhnya pengalaman nyata tetapi difiksikan.

Saya juga membaca tulisan-tulisan yang tersimpan sebagai draft sejak zaman dulu kala, yang karena berbagai alasan dan pertimbangan, saya putuskan tidak mempublikasikannya. Beberapa tulisan mulanya sudah tampil di blog ini, tetapi kemudian saya kembalikan ke bagian draft lagi.

Sebagian besar postingan di draft itu adalah tulisan-tulisan yang menurut saya bernuansa 'gelap'. Tulisan tentang kecemasan, kesedihan, ketakutan, keengganan, perasaan tidak nyaman, kesal, amarah, dan sisi gelap lainnya dalam diri saya yang tidak selalu saya tampilkan di keseharian. Tetapi, bukankah postingan yang ter-publish di blog ini juga rata-rata mengangkat tema yang sama?

Sering saya bertanya-tanya, siapa pula yang mengunjungi blog ini dengan sengaja? Apa yang ia pikirkan saat menemui 'sisi gelap' bertebaran di mana-mana? Kesalkah rasanya, ketika sadar dirinya tersasar di belantara?

Itu membuat saya berpikir, ingin berhenti memposting tulisan 'gelap' di laman ini.

Tetapi tampaknya tidak bisa.

Barangkali ada yang sadar, topik postingan belakangan ini pun kian menuju ke arah sana. Semakin egosentris dan melulu soal penulisnya. Masih mending kalau mengandung energi positif, ini yang ada justru sebaliknya. Yap, saya mengaku sering lari ke sini beserta segala sisi gelap saya. Dan, ya, saya melakukannya dengan penuh kesadaran.

Sejak pertama kali dibuatkan blog pada 2007, saya mengenalnya sebagai media untuk menyalurkan pikiran dan perasaan. Lahan berekspresi melalui tulisan. Didorong minat saya terhadap dunia tulis-menulis, juga dilatarbelakangi peristiwa berkabung yang saya alami waktu itu, blog menjadi saluran katarsis yang cukup efektif bagi saya.

Kini, sepuluh tahun berlalu, saya masih nyaman menulis untuk menyampaikan buah pikiran dan segenap perasaan. Blog lah yang saya pilih untuk merepresentasikan kepribadian dan isi kepala yang—menurut saya—paling mendekati aslinya. Blog, dan bukan platform media sosial lain. Termasuk urusan sisi gelap yang tidak saya ekspos di sembarang media. Blog seakan menjadi diary online tempat saya menuangkan segala kisah maupun keluh-kesah.

Oleh karena itu, dear pengunjung belantara sekar,

Blog ini mungkin tidak banyak berisi konten yang bermanfaat bagi pembaca. Racauan tak jelas, pengalaman pribadi berbalut kegelisahan, narasi tentang apa yang ada di angan, siapa yang tertarik membaca tulisan seperti itu? Meskipun saya sangat berminat mengeksplorasi jenis tulisan lain seperti catatan perjalanan, ulasan buku yang saya baca, musik yang saya dengar, film atau pertunjukan yang saya tonton; saya belum bisa menjanjikannya. Ulasan-ulasan semacam itu yang lazim dibagikan kepada publik, kan?

Saya masih akan mengisi blog ini sebagaimana model tulisan yang telah ada. Tidak peduli siapa yang membaca, saya ingin menjadi bebas dalam tulisan. Mengekspresikan diri lewat kata-kata, menjadi liar di belantara. Efek sampingnya jelas, saya bisa terlena untuk membagikan hal-hal yang kelewat pribadi di ranah maya. Untuk itu, biarlah kontrol diri yang bekerja.

Pembaca belantara sekar mungkin teman-teman saya sendiri, atau orang asing entah siapa yang tidak ada urusannya dengan saya di dunia nyata. Saya memang mencantumkan tautan menuju laman ini di profil akun medsos saya yang lainnya. Siapapun dapat mengaksesnya. Tetapi, saya toh masih terkaget-kaget jika ada orang yang saya kenal berkata: ia habis menengok belantara. Tagline di bawah judul laman ini saya buat bukan tanpa tujuan. Itulah sebuah peringatan atas liarnya belantara yang berpotensi memakan korban! (Yak mulai lebay.)

Terakhir. Jika kamu tidak suka dengan melankolia khas saya, kamu tidak perlu membuka belantara ini lagi. Lupakan kalau kamu pernah bertandang ke laman tak menarik ini.

Saya ingin bertapa dengan tenang di belantara.

Mengisi blog seperti memenuhi kebutuhan jiwa.

(Keterusan deh lebay-nya. Terima kasih lho sudah baca sampai akhir. Semoga harimu menyenangkan, ya.)


Yogyakarta, 5 Desember 2017.  04.19 WIB.

15 comments:

  1. Semangat dek... tetaplah nulis. Apapun yang kamu tulis. Aku senang membacanya ^^ salam kenal ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak, salam kenal juga :)

      Delete
  2. Saya termasuk salah satu yg sengaja membaca tulisan2mu, tiap tulisan baru mesti kebaca pas senggang waktu karena blogpostmu masuk daftar di feedly saya, dan termasuk salah satu yg paling rajin apdet

    Yg saya suka, tulisan2mu jujur dan ngalir, enak ada dibacanya. Jd selamat berharijadi utk blognya. Teruslah menulis. Insya Allah akan terus saya baca

    Dan smoga hidup penulisnya makin & terus sukses ya 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha, belakangan ini malah kendor nih ngeblognya. Terima kasih atas supportnya, sukses juga buatmu Om!

      Delete
  3. Tetap semangat buat nulis ya echa. Saya selalu nungguin kamu post blog baru. Saya selalu menanti post terbaru dari kamu.
    Tulisanmu bagus dan enak buat dibaca. Seru aja bisa tau banyak hal dari pemikiran orang lain.

    Semangat terus chaak dan smga tuhan menyertai selalu ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yooow Mao trims banyak yaaa! Mao juga kalo mau bikin page buat share apapun pasti menarik :)) have a nice day, dear Mao!

      Delete
  4. gilak admirernya banyak jugaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ...while silently I admire you. Eaaak.

      Delete
  5. echaak, i admire your blog. tetep nulis yaa, aku pembaca setiamu! :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha mbok kamu juga nulis lagi, Sin. Aku pasti berkunjung balik!

      Delete
  6. Kadang tulisan yang tidak sengaja terbaca di bungkus kacang rebus lebih menarik daripada isi buku tebal-harum yang baru saja dibeli di Gramedia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Esa, tolong jelaskan ini maksudnya gimana :/ belantarasekar cenderung ke yang mana? Memang sih, isinya belum pantes dicetak dan diajukan ke penerbit (ngarep abis woi).

      Btw, kacang rebus sekarang dah jarang dijual pakai bungkus kertas bekas. Lebih sering pakai plastik, kan.

      Delete
  7. Tetap menulis yah Sekar, bukan karena ingin dibaca. Karena tulisan yang tulus bukan hanya dibaca tapi juga menginspirasi. Terima kasih karena selalu jadi inspirasi. Saya senang tersasar di belantara sekar, bahkan cenderung ketagihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak, terima kasih sudah mau nyasar ke sini ya. Laman ini rada gak jelas, tapi syukurlah kalau bermanfaat. Terima kasih juga atas dukungannya, dan oh, salam kenal! :)

      Delete