Pages - Menu

Thursday, January 25, 2018

Agar tidak pikun dini

Kalau ada satu sifat jelek yang sudah pasti membawa dampak merugikan bagi pelakunya, bahkan berpotensi mendatangkan marabahaya, hmmm, menurutku itu adalah sifat malas!

Malas bangun pagi, rezeki untuk sehari penuh keburu menguap. Malas gosok gigi waktu kecil, nanti tuanya ompong dan nggak bisa menikmati jagung bakar... atau jagung rebus. Segala bentuk kemalasan tuh berbahaya! Tetapi, di sini aku membicarakan kebiasaan malas melakukan sesuatu yang berakibat kita jadi mudah lupa: malas mengarsipkan hal-hal penting.

Maksudnya bukan hal-hal penting yang sudah ada bentuk fisiknya, seperti tagihan listrik, surat berharga, catatan utang di warung, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu, kan, dengan mudah kita ambil dari tempat penyimpanan, setiap kali kita butuhkan. Bagaimana dengan hal-hal penting yang kita temui sehari-hari, yang dengan mudah terlewat jika kita lalai memperhatikan?

Seringkali, hal-hal penting terkandung dalam sebuah peristiwa. Maka, kita berusaha mengabadikan peristiwa untuk mengekalkan hal penting di dalamnya. Caranya beragam: bisa dengan menarasikan peristiwa itu lewat tulisan, membuat rekaman visual, atau rekaman suara. Mengabadikan momen secara visual adalah yang paling lazim kita temui saat ini. Aku pun melakukannya, memotret dan merekam hal menarik yang kutemui setiap waktu. Tetapi, buatku yang juga senang mengarsipkan sesuatu lewat tulisan, ada yang kurang rasanya jika sebuah peristiwa tidak dinarasikan secara tertulis.

Menarasikan peristiwa ke dalam tulisan berbeda dengan mengarang. Tantangannya adalah bagaimana sebuah peristiwa dapat terdeskripsikan dengan baik. Segala detail yang tertangkap indera adalah bekal untuk membuat narasi tertulis. Nah! Dalam proses mengingat-ingat detail itulah, paling fatal jika terserang rasa malas! Sudah terpikir ingin mencatat peristiwa ini, peristiwa itu, tapi terus menunda hingga akhirnya lupa.

Urgensi membuat dokumentasi tertulis kupelajari di kelas Mas Pujo—dosen antro paling bijak sedunia-akhirat. Olehnya, kami diajari cara menyusun dan menganalisis data harian agar mendukung penulisan artikel hasil penelitian. Proses memperoleh data harian nyaris sama seperti menulis diary: segala informasi yang dianggap penting harus segera dicatat dan dideskripsikan serinci mungkin, jangan ada yang terlewat. Sama sekali tidak boleh malas, sebab ingatan manusia sangat terbatas. Data harianlah yang jadi penolong ketika riset di lapangan berakhir, lalu tiba saatnya duduk di depan komputer untuk tahap analisis—sebelum akhirnya mengungkap hasil penelitian.

Hehehehe serius amat ya jadi ngomongin penelitian.

Tapi ini memang perkara serius...

Aku menyesal telah abai menyusun 'data harian' atas peristiwa (yang kuanggap) penting sehari-hari. Menyesal tidak langsung membuat review buku yang dibaca, film yang ditonton, atau diskusi yang diikuti. Tidak langsung mengabadikan sebuah perjalanan ke dalam catatan. Bahkan, menunda-nunda menuliskan gagasan kecil yang muncul di kepala... padahal mungkin saja, esok lusa gagasan itu lebih bermakna.

Semua karena termakan sifat jelek bernama ma-las!

selain dokumentasi tertulis, dokumentasi visual juga mengekalkan ingatan | credit: here

Dulu, aku punya scrapbook sederhana tempatku mengarsipkan segala yang kuanggap penting dan menarik—versi Sekar remaja. Aku berencana membuatnya lagi, sebagai arsip Sekar versi dewasa (hehehe dewasa). Harusnya arsip momentum di dalam scrapbook itu sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu, tepat saat umurku menginjak angka 20. Tapi, coba tebak, aku kena kutukan dari sifat malas dan suka menunda-nunda!

Hah, memalukan.

Kupikir, setiap catatan pasti bermanfaat, setiap arsip pasti ada gunanya. Paling tidak untuk diri sendiri. Jadi sumber rujukan di kemudian hari, sehingga diperoleh pemahaman, pembelajaran, apapun itu—lagi dan lagi. 

Tapi nih ya... kalau rencanaku bikin scrapbook ini sampai pada temanku yang paling cablak sejagad raya, kemungkinan aku bakal diledeknya: apa-apa dibikin arsip, pantesan gampang kelingan sing biyen-biyen! (mudah teringat yang dulu-dulu, alias susah move on). Hah! Terserah, terserah saja. Barangkali dengan begini bisa terhindar dari pikun di usia muda!


Cheers,

1 comment: