Pages - Menu

Thursday, March 22, 2018

Kerikil di dasar sepatu

"Sekar, aku mau nanya deh, mungkin ini sangat personal, tapi aku mau nanya, kamu... kamu pernah nggak sih, merasa sepi?" 

Pertanyaan itu datang seperti sebuah kesadaran akan kerikil yang mengganjal di dasar sepatu. Kerikilnya sudah agak lama berada di situ, tapi aku sebagai pemakai sepatu menolak untuk menggubrisnya. Tak peduli kakiku mungkin luka dan berjalan dengan sepatu itu jadi tak nyaman. Aku hanya memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sore itu seakan-akan sepatuku berubah warna jadi transparan, dan orang mungkin dapat melihat kerikil yang ada di sana, di antara jari-jari kakiku. Mereka bisa saja pura-pura tidak lihat, sama seperti aku yang bersikap abai pada kakiku sendiri. Tetapi... si penanya berbeda. Sepengetahuanku, ia memang seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia punya tekad yang kuat dan cukup keberanian untuk menuntaskan keingintahuan di benaknya.

Meski kerikil di dasar sepatuku amat kecil dan buruk rupa, ia melihatnya. Maka, demi karakter yang sudah kusebutkan tadi, ia memutuskan bertanya.

Pernahkah merasa sepi?
Bagaimana aku menjawab pertanyaan semacam itu?

'Sepi’ itu, apa maksudnya? Apakah tentang hidup sendiri, setelah bapak dan ibu berpulang? Rasa sepi karena berpisah dengan adik-adik kandungku yang diasuh sanak di lain kota? Ataukah maksudnya, dijangkiti sepi ketika teman-temanmu sibuk sendiri? Berharap segera bertemu seseorang--teman hidup, tempat berbagi?


Si penanya menunggu jawabanku. Tetapi aku masih berpikir;
kalau kuberitahu ia, rasa ingin tahunya akan terpenuhi.
Lalu, apa? Adakah si penanya punya rencana?

Sial. Luka di kakiku berdenyut nyeri. Basah dan berdarah. Menggenang hingga ujung sepatu.


No comments:

Post a Comment