Pages - Menu

Monday, March 5, 2018

Menjadi kakak

Bagian yang paling membuatku khawatir tentang tinggal terpisah dari saudara kandung adalah, bahwa kita mungkin melewatkan sesuatu yang terjadi pada mereka.

Sesuatu... apapun. Hal-hal kecil. Hal-hal besar.

Mungkin mereka mengalami hari yang melelahkan di sekolah. Guru yang galak. Tumpukan PR.  Permasalahan dalam pertemanan. Sindir-menyindir antargeng perempuan. Lalu terpapar terik matahari saat menunggu bus sepulang sekolah. Keseharian semacam itu. Atau lainnya. Pengalaman lucu. Hal-hal menyenangkan. Berkunjung ke rumah teman yang memelihara kucing persia. Mendapat nilai tertinggi di kelas untuk satu-dua mata pelajaran. Perasaan berdebar ketika seorang teman laki-laki menyapa. Atau lainnya.

Berapa banyak cerita yang aku lewatkan?

Bahkan dulu saat kami tinggal serumah, aku terlalu sering melewatkan banyak hal. Adik-adikku terus tumbuh, dan—aku takut—aku tidak memberi cukup perhatian. Mereka bicara, tapi aku tidak cukup mendengarkan. Aku sibuk dengan duniaku sendiri. Padahal, setelah ibu berpulang, adik-adik menjadikan aku sebagai pegangan. Harusnya, aku jadi kakak perempuan yang mengayomi, kan?

Kami tidak pernah tinggal terpisah, sampai bapak kondur menyusul ibu, dua tahun lalu. Keluarga besar kami membantu mengambil keputusan: aku dan adik-adik harus berpisah sementara waktu, karena adik-adik lebih baik tinggal dalam asuhan tante dan om kami di lain kota. Paling tidak, sampai mereka menyelesaikan sekolah di tingkat SMA.

Kami yang tidak pernah tinggal terpisah sebelumnya, harus menyesuaikan diri dengan situasi. Jarak membuatku tidak bisa menyaksikan adik-adikku bertumbuh setiap hari. Tak bisa menatap wajah untuk menemukan cerita di mata mereka. Tak bisa selalu hadir secara fisik untuk mendampingi keseharian mereka.

Dengan sedikit usaha, aku bisa menelepon setiap malam. Menanyakan, ada cerita apa hari ini? Tapi aku tidak melakukannya. Aku menanyakan itu lewat kotak chat, dan hanya menelepon di waktu luang. Sekali waktu membuat panggilan video agar bisa melihat ekspresi mereka. Berujung menonton mereka narsis sendiri karena asyik dengan wajah yang terpantul kamera.

Aku bukan kakak yang baik,
meski berulang kali berkata aku menyayangi mereka. Aku tidak berusaha dengan baik untuk dapat memenuhi yang mereka butuhkan sebelumnya. Aku seorang kakak tempat adik-adikku menaruh harapan, namun aku bersikap mengecewakan. Mereka pasti kesal karena aku telah melewatkan begitu banyak hal.

Hidup sudah susah, Dik, tanpa bapak dan ibu kita.

Maafkan kakak karena pernah menambah berat hidupmu, mempersulit hari-harimu.

Kalau suatu saat adikku membaca postingan ini—aku tidak tahu berapa besar kemungkinannya, karena sepertinya mereka tahu aku punya blog, tetapi jarang melongok kemari—aku akan membebaskan mereka berpikir atau berprasangka. Aku tidak ingin mengumbar kata-kata manis karena kupikir mereka lebih membutuhkan aksi.

Terlahir sebagai sulung dari bapak-ibuku, menjadi kakak bagi adik-adikku, sungguh tidak pernah mudah. Tapi aku belum akan menyerah. Aku berhutang senyum di wajah mereka, doakan aku bisa menebusnya!
tiga dara kecil, kini telah beranjak, mari hidup dengan baik
(dokumen pribadi, 2003)

Tertanda
kakakmu,
 

P.s. judul postingan diambil dari salah satu novel teenlit favoritku beberapa tahun lalu. Judul aslinya Porcupine karangan Meg Tilly, terbitan Tundra Books tahun 2007 yang dialih bahasa dengan judul Menjadi Kakak oleh Gramedia Pustaka Utama. Aku membacanya sekitar tahun 2008 saat menggandrungi serial teenlit, dan, lepas dari itu, novel ini cukup punya andil dalam proses penerimaan diriku sebagai seorang kakak bagi adik-adikku, pasca berpulangnya ibu pada 2007.

1 comment:

  1. hi. jmput la join n meriahkan segmen GA kt sini

    http://www.raydahalhabsyi.com/2018/02/wonderful-march-giveaway-by-raydah.html

    ReplyDelete