Pages - Menu

Sunday, February 10, 2019

di telepon

semalam aku menangis di telepon
setelah bercerita
tentang seorang perempuan yang kita kagumi
semangat hidupnya.

aku dan dia punya kesamaan, kataku,
kami sama-sama yatim piatu.

ya, aku sudah tahu,
katamu.
aku melihat unggahannya
ia berkunjung ke makam orangtuanya.
aku baru ingat
kalian terhubung di media sosial,
sering berbincang tentang
upaya penyelamatan lingkungan.

kamu bisa mencontoh semangatnya,
bagaimana dia menjaga adik-adiknya.
aku mengangguk, meski kamu tidak lihat.
lalu dadaku mendadak jadi sesak.

hening datang tanpa permisi.

maaf, maaf, maaf. katamu,
maaf,
maaf.
aku menyedot ingus.
tidak ada yang salah,
hanya aku kebanyakan stok airmata.

kita mengobrol lagi,
beberapa menit menuju tengah malam
sampai aku mengingatkanmu
untuk istirahat.

menjadi yatim piatu tidak pernah mudah
perasaan kehilangan
membikin bingung dan resah.
kadang-kadang aku mengira ini penyakit
sehingga aku bertekad sembuh.

pertama kali aku mengenalmu
kamu perempuan kuat,
esok pun begitu.
itu ucapanmu yang paling kusuka
dan paling kuingat.

Yogyakarta, 10 Februari 2019.

No comments:

Post a Comment