Pages - Menu

Wednesday, June 19, 2019

Dokumentasi: Perjalanan Mengobati Kehilangan

Aku tidak pernah merasa punya kisah hidup yang istimewa, sampai layak mendapat perhatian orang, pantas dijadikan bahan pembelajaran, apalagi disebut "menginspirasi". Makanya, ketika tiba-tiba seorang kenalan menghubungiku, mengungkapkan keinginannya membuat 'reportase' tentang bagaimana hidupku berjalan, aku kaget. Memangnya, bagaimana dia melihat aku dan hidupku? Liputan seperti apa yang ingin dia buat? Kisah macam apa yang dia harap akan dia dengar?

Smitaperempuan berjiwa jurnalis itumenghubungiku setelah aku mengunggah foto kover antologi puisi berjudul Brushing Mom's Hair, berlatarkan papan kayu lantai gazebo tempat aku mengambil gambar. Puisi-puisi di dalamnya ditulis oleh Andrea Cheng, gadis 14 tahun yang ibunya didiagnosis dokter mengidap kanker payudara. Brushing Mom's Hair kupinjam dari Mbak Novi, seorang editor naskah akademis sekaligus kutu buku yang punya baaaanyak koleksi bacaan di rumahnya. Waktu itu, Mbak Novi mengaku lemari bukunya sudah terlalu penuh, sehingga ia memutuskan menjalankan proyek shelf sharing alias berbagi koleksi bacaan kepada kawan yang berminat. Lewat iklannya di Instagram-lah aku berjumpa dengan Brushing Mom's Hair, lalu menyampaikan keinginanku untuk meminjamnya.

Brushing Mom's Hair menarik perhatianku karenasetelah diberitahu cuplikan sneak peek oleh si empunyaaku memiliki kesamaan dengan penulis antologi ini. Back then, ibuku didiagnosis mengidap kanker payudara, tepatnya ketika aku duduk di bangku SD tingkat awal. Aku dan adik-adik melalui masa kecil di mana kamibersama bapakmengantar ibu mencari pengobatan alternatif untuk kankernya. Ibuku takut pada tindakan medis. Itu sebabnya ia enggan berobat ke rumah sakit, meskipun tahu pengobatan alternatif tidak banyak meningkatkan kondisi kesehatannya.

Aku dan adik-adikku kehilangan ibu di usia sangat muda. Ibu telah berjuang melawan sakitnya dan tak pernah sekali pun menyerah, itu yang kami yakini pasti. Sebelum ibu pergi, aku sudah suka menulis. Aku menulis cerita pendek dan puisi sederhana, kadang-kadang di bawah bimbingan ibu juga. Setelah ibu tiada, puisi-puisiku berubah tema, sebagian besar tentang rasa sedih kehilangan orang yang disayangi. Seorang kenalan bapak kemudian membuatkanku akun di platform Blogger, tempat di mana aku bisa mengunggah puisi-puisiku dan menyalurkan emosiku di sana. Itulah mulanya aku akrab dengan dunia tulis-menulis, dengan menjadikan tulisan sebagai media untuk mengekspresikan diri, terapi yang efektif memerdekakan rasa. Membebaskan, sekaligus melanggengkan ingatan.
thanks to Mbak Novi who lent me this!
Menemukan Bruhsing Mom's Hair membuatku merasakan sesuatu yang relevan; kegelisahan seorang anak yang mengetahui ibu yang disayanginya melemah karena penyakit, kepolosannya menghadapi hal-hal yang berubah seiring perubahan kondisi sang ibu. Rupanya, unggahanku yang membingkai kover Brushing Mom's Hair inilah yang menarik Smita untuk mengetahui lebih jauh: bagaimana Sekar menghadapi kematian orang terkasihnya.

Kalau boleh memberi bocoran, tema reportase Smita sebetulnya bergeser, dari yang mulanya ingin menyoroti cara Sekar si anak sulung mengambil peran perempuan dewasa di keluarga pasca kepergian ibu, menjadi cara Sekar menyembuhkan diri dan berdamai dengan kepergian: kedua orangtua.

Meskipun bingung memulai ceritalebih-lebih karena ada keraguan memangnya apa yang menarik dari hidupku?, Smita membantu dengan pertanyaan-pertanyaan dasar yang memanduku menguraikan kisahku sendiri. Saat itu, aku berangkat dengan niat membagikan apa yang bisa kubagi, menceritakan apa yang bisa kuceritakan, meski entah hasil seperti apa yang menjadi target Smita. Praktis, seorang yang pada dasarnya senang bercerita seperti aku, tidak membiarkan kesempatan curhat pada penyedia kuping gratis berlalu begitu saja.

Mengizinkan seseorang menanyakan hal-hal mendalam, memintaku menceritakan sesuatu yang sangat personal, kusadari membantuku mengenali diriku sendiri. Dalam 'sesi wawancara' singkat itutak sampai dua jamaku telah melakukan perjalanan kilas balik tentang bagaimana aku bertumbuh, bagaimana hal-hal berubah dalam hidupku menuntut penyesuaian, mendorongku bersama segenap perasaan-perasaan dinamis yang akhirnya membentuk aku hari ini. Tanggapan Smita terhadap ceritaku pun turut membangun kepercayaan diri, membuatku sadar pentingnya apresiasi diri: bahwa aku telah tumbuh, beradaptasi, bersikap, dan mau mengusahakan hal-hal baik dalam kehidupanku.
personal stuffs, personal feelings.
Ketika akhirnya Smita selesai dengan 'reportase'-nya, aku membaca refleksi hidupku dalam beberapa paragraf yang ia tulis dan merasa takjub: Smita menarasikan semuanya dengan tepat. Ia memang banyak membuat banyak catatan dalam bukunya sembari mewawancaraiku, tapi tak kusangka ia mampu membuat reportase itu sebagaimana adanya, menghadirkan emosi, mengikuti jalan pikir subjek, dan sebagainya. Boleh kukatakan tulisan Smita cukup representatif, dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Ia membantuku membuat dokumentasi sebuah fragmen dalam perjalanan hidupku, dan, lebih dari itu, mendorongku memahami diri.

Usut punya usut, rupanya ada peran seorang karib dalam penulisan reportase Smita: dialah Shabia, yang mula-mula mengenalkan aku pada Smita! Shabia, perempuan matari, merasa mengenalku lebih daripada cerita yang didengar Smita, dan punya pandangan tersendiri tentang sisi-sisi Sekar yang perlu didokumentasikan (yang mana aku sendiri pun takjub, ada orang-orang yang begitu peduli padaku!).

Mungkin, postingan ini pada akhirnya terdengar narsistik. Aku bukan tokoh kenamaan yang kiprahnya begitu mengguncang dunia, untuk apa ada dokumentasi tertulis tentang hidupku? Buatku, tulisan Smita menjadi pengingat untukku bersyukur, punya kemauan dan kemampuan melalui masa sulit. Mengingatkan aku untuk menyayangi diri sendiri, dan betapa kita bisa banyak belajar dari pengalaman pahit sekalipun. Tentu, aku tidak dapat mendeskripsikan secara lugas bagaimana luka kehilangan itu terasa begitu perih, lagi pula aku memang beranggapan orang-orang tidak perlu merasakannya persis seperti yang ada. Aku harap ini menjadi jalanku mengapresiasi orang-orang yang sungguh peduli, yang menemaniku bangkit dari luka itu, sebab tanpa mereka, aku mungkin tidak setenang ini.

Sekar's Journey to Heal from Her Loss adalah sepotong dokumentasi perjalananku mengobati kehilangan, ditulis dalam bahasa inggris oleh Smita Tanaya dalam proyeknya, Women Around Us. Aku ingat kutipan kata pengantar salah satu edisi National Geographic yang ditulis oleh editor John Chris; sains membantu kita memahami banyak hal: melacak topan dan mengukur tinggi tsunami, tapi tak bisa membuat kita memahami rasa kehilangan. Saat ini pun aku masih mengamininya. Rasa kehilangan adalah sesuatu yang tak nyaman untuk ditanggung, seringkali tak terjelaskan, dan orang-orang yang telah mengalaminya mungkin paham, tak ada obat yang mujarab untuk sakit yang ditimbulkan oleh rasa kehilangan ini—sekalipun waktu telah ikut andil. Namun begitu, aku percaya kita selalu berhak untuk perasaan damai dan tenteram; dan, kurasa, berbagi cerita dapat menjadi salah satu saluran yang melegakan.

Sincerely,

2 comments:

  1. Peluk hangat untuk Echa, terimakasih sudah membagikan tulisan yg amat reflektif ini, semoga kita semua selalu dilingkupi hal-hal baik yg menenangkan💚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluk balik! Amin, amin, amin.
      Makasih buat kunjungannya, lamanmu pun salah satu tujuan tetapku setiap waktu!

      Delete